Jumat, 26 Februari 2016

Tanpa Judul
Siang hari dengan cuaca yang sangat cerah dengan pancaran mentari dilalui tanpa kegiatan yang berarti hanya menunggu waktu yang dinanti untuk menunaikan sebuah kewajiban. Dilewati hanya dengan sedikit mengerjakan hal-hal yang seperti biasanya dilakukan seperti hari-hari pada umumnya, mulai dari beres-beres, membersihkan badan dan menyiapkan makan. Terdiam dengan banyak keraguan yang datang ketika akan melakukan sesuatu membuatku terhenyak dan segera meggerakkan badan untuk melakukan hal lain. Dibukanya lah netbook yang sudah biasa menjadi teman disaat kesendirian melanda, memang kaulah notebook teman sejatiku. Menunggu sejenak agar netbook ini bisa langsung dioperasikan, untuk meramaikan suasana yang dibuka pertama kali tentunya aplikasi musik yang bisa memutarkan lagu-lagu yang bisa didengar dan diikuti. Entah selanjutnya apa yang ingin dilakukan namun jari ini membawa pada aplikasi word. Tidak ada inspirasi ataupun ide untuk  menulis bahkan tak ada kewajiban yang harus dilakukan yang biasanya berupa tugas-tugas mata kuliah dari dosen yang kadang membuat mahasiswanya merasa diuji dengan seberat-beratnya ujian hidup (mungkin terlalu berlebihan mahasiswa ini ;)).
Cerita yang ku ingat ketika masa itu sudah berlalu, ingin kutulis meski tidak banyak memberi arti tapi itu akan membuat rasa senang datang karena kehidupan yang lalu telah terlewati dan banyak memberi pelajaran atas kesalahan-kesalahan yang telah terjadi. Saat ingin kulanjutkan tulisan ini kebingungan melanda entah harus dari mana ku mulai tulisan ini. Tapi aku mencoba meneguhkan hati kuambil awal cerita ini dari sejak datangnya diriku kedunia ini.
Tak tahu secara jelasnya kejadian atas kelahiranku, ketika itu tanggal 3 januari tahun 1995 bertempat di jalan pesantren kota bandung telah lahir seorang anak berjenis kelamin perempuan pukul 22.00. bayi dengan bermata sipit dengan sedikit rambut di kepalanya serta kulit yang berwara kemerah-merahan tersebut diberi nama Rosdiana Maspupah. Entah alasan apa yang membuat orang tuaku memberikan nama itu, yang pasti orang tua pasti memberikan nama yang bagus untuk anaknya dengan makna yang baik pula dengan harapan kelak anaknya tercermin dengan makna namanya sendiri yang bisa memberikan kebanggan bagi orang tuanya. Rosdiana yang belum aku ketahui maknanya belum bisa kupahami dan masih sulit untuk menerjemahkan nama tersebut dengan sifatku yang sekarang ada dalam diriku. Maspupah ku menemukan maknanya di dalam bagian ayat suci al-Qur’an, yakni maspupah yang berarti tersusun. Sedikit dari makna maspupah tersebut sudah dirasakan dan termasuk dalam bagian sifatku yang selalu ingin melakukan kegiatan dengan tersusun sesuai dengan perencanaan yang telah dibuat meskipun terkadang banyak meleset dari perkiraannya hhehe.
Tak lama dari kelahiranku ternyata mamah sudah mengandung lagi anak yang kedua. Hanya dalam kurun waktu tiga bulan saja aku merasakan rasa ASI dan sisanya aku diberi susu formula. Aku yang lahir diawal bulan Januari membuat aku dan adikku lahir pada tahun yang sama karena adikku lahir di bulan terakhir tahun itu. Untungnya saja adikku lelaki kalau perempuan mungkin orang-oorang akan berkata kembar. Adikku bernama Ahmad Firadus, dia lahir di Garut pada tanggal 24 Desember tahun 1995 pada hari minggu. Aku dan adikku tak ubahnya pemeran film kartun Tom and Jerry yang kerjaannya hanya bertengkar.
Sejak pernikahannya hingga mempunyai kedua anak aku dan adikku, kami semua masih tinggal seatap dengan nenek kakek kami yang bertempat tinggal di jalan nurtanio yang tak jauh dari bandara Husein S. Selama tinggal di rumah nenek kakek yang dibandung kami jarang sekali keluar rumah karena keadaan rumah yang berada tak jauh dari jalan raya membuat khawatir orang tua yang  jikalau aku dan adikku bermain di luar, sehingga kebanyakan kami hanya berdiam di rumah dan belajar. Tapi dari keadaan tersebut bisa diambil hikmahnya seidaknya kami pun menjadi bisa membaca dan menulis dari hasil pembelajaran di rumah yang jarang keluar rumah.
Pekerjaan bapak kala itu masih sebagai buruh pembuat paping block. Perusahaan paping block milik adiknya nenek aku dari bapak, sehingga masih terpaut saudara. Dengan berjaannya waktu, anak-anaknya yang terus bertumbuh akhirnya membuat bapak berpindah profesi menjadi seorang pemangkas rambut. Profesi sebagai pemangkas rambut itu diawali dengan menjadi seoroang anak buah di suatu tempat yang masih milik saudara juga tempatnya masih di bandung. Setelah beberapa lama bapak bekerja sebagai anak buah ditempat saudara tersebut akhirnya memutuskan untuk mempunyai tempat sendiri. Namun karena keterbatasan dana untuk modal kemudian bapak pun bekerja sama dengan kakak iparnya membuat pangkas dengan sistem bagi hasil. Tempat kerjanya tersebut bertempat di komplek padasuka indah kota cimahi.
Pernah suatu ketika aku pergi bersama uak ke Banten tepatnya Cilegon daerah delingseng  tanpa sepengetahuan mamah dan bapak. Saat itu aku yang ikut ke bapak menuju tempat kerja dipagi hari kemudian pulang ke rumah nenek kakek padasiang harinya bersama uak. Namun sesampainya dirumah tak ada siapapun karena kala itu mamah, adikku dan nenek sedang pergi ke pengajian, biasanya yang selalu ikut ke pengajian bersama nenek adalah aku karena selalu diajak dan selalu ingin ikut hehe. Akhirnya uak mengajakku ikut ke banten dengan berkata ”sudah ikut sajalah ke banten masalah baju nanti aja di sana beli lagian di rumah juga gak ada siapa-siapa” ada tetangga yang masih saudara juga menyarankan aku untuk menunggu mamah dan nenekku pulang saja karena memang sekitar satu jam setengah lagi mereka akan pulang. Namun uak tetap memaksa aku untuk ikut, seorang anak yang masih butuh pengawasan ini akhirnya menuut saja pada orang yang tentu lebih tu darinya.
Perjalanan banten pun kulalui dari bandung, cukup lama perjalanan tersebut sekitar 8 jam lebih. Berangkat di siang hari dan sampai ketika malam sudah larut. Seluruhnya anak dari uak yang ini adalah laki-laki, sehingga urusan rumah tangga pun hanya dilakukan oleh isteri uak saja. Sesampainya di rumah terlihat istri uak sedang membereskan pakaian yang hanya ditemani kipas angin karena keadaan cilegon yang panas dan televisi yang ikut meramaikan suasana. Sebulan lamanya aku tinggal di cilegon tanpa didampingi dan tanpa sepengetahuan orang tua karena pada masa itu untuk berkomunikasi jarak jauh masih sangatlah sulit yang membuat akupun tak bisa memberi kabar pada orang tuaku. Selama di cilegon aku diajak berjalan-jalan ke pasar dan tempat lainya karena tak banyak yang ku ingat, mungkin karena waktu itu aku masih kecil dan masih berusia sekitar 3-4 tahun. Perginya aku ke banten membuat kewajibanku terbengkalai, ketika itu aku yang masih duduk di bangku taman kanak-kanak sangat sering sekali aku bolos dan kemudian ditambah dengan pergi ke banten selama sebulan akhirnya membuat sekolah Tk ku berhenti di tengah jalan.
Waktu pulang pun tiba, namun aku tidak pulang ke bandung melainkan langsung ke garut. Karena waktu itu adik bungsu mamah akan menikah. Aku pulang bersama isteri uak dan anak bungsunya ke rumah nenek dari bapak terlebih dahulu yang lokasinya berada di Lewo-Malangbong, kami berangkat dari Banten sehari sebelum pernikahan bibi berlangsung.   Sepulangnya aku dari Banten ketika sampai di rumah tepatnya di cilimus mamah dan bapak hingga meneteskan air mata karena anak yang pergi anpa sepengetahuan orang tuanya ini telah kembali. Aku hanya berekspresi biasa saja seperti halnya anak lain yang masih berwajah polos. Setelah kejadian itu akhirnya mamah dan bapak memutuskan untuk tetap tinggal di cilimus karena sebelumnya kami pulang pergi bandung-garut. Selain itu, alasan lain juga karena mamah yang lebih suka pulang ke kampung halamannya karena tidak kerasan tinggal di rumah mertuanya.
Perpindahan tempat tinggal pun berlangsung, aku yang sebelumnya tidak menyelesaikan sekolah TK ketika pindah selalu mengikuti anak uak dari mamah ke sekolah. Anak uak dari mamah ini perempuan namanya teh Irma atau yang biasa dipanggil nay, karena waktu iu belum memasuki tahun ajaran baru maka aku hanya mengikutinya saja. Ketika memasuki tahun ajaran baru saat tahun 2000 aku pun akhirnya memasuki madrasah ibtidaiyah meski umurku baru 5 tahun dan menjadi adik kelasnya teh Irma. Uak dari mamah yang lain pun ada yang mempunyai anak seangkatan dan sekelas sama aku namanya teh Susi.
Di sekolah MI ini aku mendapat banyak teman dengan berbagai macam karakter. Tetapi aku tidak mempunyai teman yang sangat dekat kecuali dengan saudaraku teh susi, karena mungkin aku yang mempunyai sifat cuek. Meski aku sudah mempunyai banyak teman, tapi mengikuti dan berbarengan dengan teh Irma tetap dilakukan seperti pulang bersama saat bubaran sekolah kadang aku ikut bermain dengan teh Irma ketika dia akan berkunjung ke rumah temannya sehingga aku mengenal dekat beberapa teman teh Irma. Sebagai murid yang masih baru di kelas pun belum banyak keberanian yang ditunjukkan bahkan mungkin akhirnya aku banyak tertindas oleh teman-temanku yang lain. Selain karena tidak adanya keberanian yang kutunjukkan umurku pun yang bisa dikatakan paling muda diantara semua teman permpuannya jadi masih dianggap anak bawang dan tak akan memberikan pengaruh pada kelas tersebut tapi aku tak terlalu memedulikannya.
Bisa dikatakan aku anak yang mempunyai sifat sombong atas apa yang dimilkinya, aku yang masih muda tidak menyukai sifat buruk ini menyarang dalam tubuh ini karena sangat mengganggu dan menghambat perkembangan pada diriku. Dengan adanya sifat sombong ini aku akan selalu merasa puas atas keberhasilan dan kelebihan yang sudah di dapat dan tak berjuang ataupun berusaha untuk mengembangkannya. Memang sulit mengendalikan sifat tersebut apalagi sifat ini menempel pada anak yang masih berumur belia. Sehingga kesombongan dan tak adanya keberanian dalam diri ini membuat prestasiku sangat terhambat, karena aku yang bisa mengerjakan sesuatu dengan benar tersebut tidak tereksplorasi karena kesombongan itu membuat aku merasa puas untuk diriku sendiri meski tanpa mengungkapkannya dan tak adanya keberanian tersebut akhirnya membuat kesempatanku untuk menjadi anak yang berprestasi diambil oleh anak yang mempunyai keberanian lebih. Dan seperti pepatah mengatakan “penyesalan selalu data g belakangan”.
Selain menuntut ilmu di madrasah Ibtidaiyah, aku juga belajar agama yang diajarkan oleh uak dari mamah di madrasah Annajah cilimus. Tak sedikit anak yang mengaji pada waktu itu, disana pun aku mendapatkan kembali banyak teman tapi semuanya berumur lebih tua dari aku. Selain teman sepengajian mereka pun teman bermain juga di kala waktu senggang. Banyak konflik yang terjadi dalam pertemanan baik di madarasah ibtidaiyah maupun di teman sepengajian. Tapi karena aku orang yang terlalu cuek dan tak terlalu suka mencari-cari masalah menganggap hanya mereka yang bermasalah dengan dirinya sendiri lah yang mempunyai konflik dengan teman yang lain.
Waktu untuk menunaikan kewajibanpun telah tiba, segeraku bereskan netbook beserta perangkatnya dan bergegas untuk bersiap-siap meunaikan kewajiban shalat dzuhur dan mencari ilmu. Jadwal hari ini perkuliahan dilaksanakan sampai maghrib. Setelah menunaikan kewajiban mencari ilmu akupun segera pulang ke tempat yang ku sewa untuk tinggal di bandung selama masa perkuliahan. Kemudian dilanjutkan dengan menunaikan ibadah shalat maghrib dan membaca sebagian ayat suci Al-Qur’an.. sambil menunggu waku isya datang aku bersama teman kosan ku mengisi perut yang dari tadi sudah berteriak-teriak kelaparan (keroncongan). Waktu isya pun tiba, setelah membereskan tempat makan kami bergegas mengambil air wudhu untuk melaksanakan kewajiban shalat isya. Setelahnya aku mengerjakan tugas sedangkan teman sekamarku menonton televisi. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan lebih, setelah menyelesaikan tugas aku langsung tidur untuk mengistirahatkan anggota tubuh ini yang terasa sakit pada seluruh badan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar