Tanpa Judul
Siang hari dengan cuaca yang sangat cerah dengan pancaran mentari
dilalui tanpa kegiatan yang berarti hanya menunggu waktu yang dinanti untuk
menunaikan sebuah kewajiban. Dilewati hanya dengan sedikit mengerjakan hal-hal
yang seperti biasanya dilakukan seperti hari-hari pada umumnya, mulai dari
beres-beres, membersihkan badan dan menyiapkan makan. Terdiam dengan banyak
keraguan yang datang ketika akan melakukan sesuatu membuatku terhenyak dan
segera meggerakkan badan untuk melakukan hal lain. Dibukanya lah netbook yang
sudah biasa menjadi teman disaat kesendirian melanda, memang kaulah notebook
teman sejatiku. Menunggu sejenak agar netbook ini bisa langsung dioperasikan,
untuk meramaikan suasana yang dibuka pertama kali tentunya aplikasi musik yang
bisa memutarkan lagu-lagu yang bisa didengar dan diikuti. Entah selanjutnya apa
yang ingin dilakukan namun jari ini membawa pada aplikasi word. Tidak ada
inspirasi ataupun ide untuk menulis
bahkan tak ada kewajiban yang harus dilakukan yang biasanya berupa tugas-tugas
mata kuliah dari dosen yang kadang membuat mahasiswanya merasa diuji dengan
seberat-beratnya ujian hidup (mungkin terlalu berlebihan mahasiswa ini ;)).
Cerita yang ku ingat ketika masa itu sudah berlalu, ingin kutulis
meski tidak banyak memberi arti tapi itu akan membuat rasa senang datang karena
kehidupan yang lalu telah terlewati dan banyak memberi pelajaran atas
kesalahan-kesalahan yang telah terjadi. Saat ingin kulanjutkan tulisan ini
kebingungan melanda entah harus dari mana ku mulai tulisan ini. Tapi aku
mencoba meneguhkan hati kuambil awal cerita ini dari sejak datangnya diriku
kedunia ini.
Tak tahu secara jelasnya kejadian atas kelahiranku, ketika itu
tanggal 3 januari tahun 1995 bertempat di jalan pesantren kota bandung telah
lahir seorang anak berjenis kelamin perempuan pukul 22.00. bayi dengan bermata
sipit dengan sedikit rambut di kepalanya serta kulit yang berwara
kemerah-merahan tersebut diberi nama Rosdiana Maspupah. Entah alasan apa yang
membuat orang tuaku memberikan nama itu, yang pasti orang tua pasti memberikan
nama yang bagus untuk anaknya dengan makna yang baik pula dengan harapan kelak
anaknya tercermin dengan makna namanya sendiri yang bisa memberikan kebanggan
bagi orang tuanya. Rosdiana yang belum aku ketahui maknanya belum bisa kupahami
dan masih sulit untuk menerjemahkan nama tersebut dengan sifatku yang sekarang
ada dalam diriku. Maspupah ku menemukan maknanya di dalam bagian ayat suci
al-Qur’an, yakni maspupah yang berarti tersusun. Sedikit dari makna maspupah
tersebut sudah dirasakan dan termasuk dalam bagian sifatku yang selalu ingin
melakukan kegiatan dengan tersusun sesuai dengan perencanaan yang telah dibuat
meskipun terkadang banyak meleset dari perkiraannya hhehe.
Tak lama dari kelahiranku ternyata mamah sudah mengandung lagi anak
yang kedua. Hanya dalam kurun waktu tiga bulan saja aku merasakan rasa ASI dan
sisanya aku diberi susu formula. Aku yang lahir diawal bulan Januari membuat
aku dan adikku lahir pada tahun yang sama karena adikku lahir di bulan terakhir
tahun itu. Untungnya saja adikku lelaki kalau perempuan mungkin orang-oorang
akan berkata kembar. Adikku bernama Ahmad Firadus, dia lahir di Garut pada
tanggal 24 Desember tahun 1995 pada hari minggu. Aku dan adikku tak ubahnya pemeran
film kartun Tom and Jerry yang kerjaannya hanya bertengkar.
Sejak pernikahannya hingga mempunyai kedua anak aku dan adikku,
kami semua masih tinggal seatap dengan nenek kakek kami yang bertempat tinggal
di jalan nurtanio yang tak jauh dari bandara Husein S. Selama tinggal di rumah
nenek kakek yang dibandung kami jarang sekali keluar rumah karena keadaan rumah
yang berada tak jauh dari jalan raya membuat khawatir orang tua yang jikalau aku dan adikku bermain di luar,
sehingga kebanyakan kami hanya berdiam di rumah dan belajar. Tapi dari keadaan
tersebut bisa diambil hikmahnya seidaknya kami pun menjadi bisa membaca dan
menulis dari hasil pembelajaran di rumah yang jarang keluar rumah.
Pekerjaan bapak kala itu masih sebagai buruh pembuat paping block.
Perusahaan paping block milik adiknya nenek aku dari bapak, sehingga masih
terpaut saudara. Dengan berjaannya waktu, anak-anaknya yang terus bertumbuh
akhirnya membuat bapak berpindah profesi menjadi seorang pemangkas rambut.
Profesi sebagai pemangkas rambut itu diawali dengan menjadi seoroang anak buah
di suatu tempat yang masih milik saudara juga tempatnya masih di bandung.
Setelah beberapa lama bapak bekerja sebagai anak buah ditempat saudara tersebut
akhirnya memutuskan untuk mempunyai tempat sendiri. Namun karena keterbatasan
dana untuk modal kemudian bapak pun bekerja sama dengan kakak iparnya membuat
pangkas dengan sistem bagi hasil. Tempat kerjanya tersebut bertempat di komplek
padasuka indah kota cimahi.
Pernah suatu ketika aku pergi bersama uak ke Banten tepatnya
Cilegon daerah delingseng tanpa
sepengetahuan mamah dan bapak. Saat itu aku yang ikut ke bapak menuju tempat
kerja dipagi hari kemudian pulang ke rumah nenek kakek padasiang harinya
bersama uak. Namun sesampainya dirumah tak ada siapapun karena kala itu mamah,
adikku dan nenek sedang pergi ke pengajian, biasanya yang selalu ikut ke
pengajian bersama nenek adalah aku karena selalu diajak dan selalu ingin ikut
hehe. Akhirnya uak mengajakku ikut ke banten dengan berkata ”sudah ikut sajalah
ke banten masalah baju nanti aja di sana beli lagian di rumah juga gak ada
siapa-siapa” ada tetangga yang masih saudara juga menyarankan aku untuk
menunggu mamah dan nenekku pulang saja karena memang sekitar satu jam setengah
lagi mereka akan pulang. Namun uak tetap memaksa aku untuk ikut, seorang anak
yang masih butuh pengawasan ini akhirnya menuut saja pada orang yang tentu lebih
tu darinya.
Perjalanan banten pun kulalui dari bandung, cukup lama perjalanan
tersebut sekitar 8 jam lebih. Berangkat di siang hari dan sampai ketika malam
sudah larut. Seluruhnya anak dari uak yang ini adalah laki-laki, sehingga
urusan rumah tangga pun hanya dilakukan oleh isteri uak saja. Sesampainya di
rumah terlihat istri uak sedang membereskan pakaian yang hanya ditemani kipas
angin karena keadaan cilegon yang panas dan televisi yang ikut meramaikan
suasana. Sebulan lamanya aku tinggal di cilegon tanpa didampingi dan tanpa
sepengetahuan orang tua karena pada masa itu untuk berkomunikasi jarak jauh
masih sangatlah sulit yang membuat akupun tak bisa memberi kabar pada orang
tuaku. Selama di cilegon aku diajak berjalan-jalan ke pasar dan tempat lainya
karena tak banyak yang ku ingat, mungkin karena waktu itu aku masih kecil dan
masih berusia sekitar 3-4 tahun. Perginya aku ke banten membuat kewajibanku
terbengkalai, ketika itu aku yang masih duduk di bangku taman kanak-kanak
sangat sering sekali aku bolos dan kemudian ditambah dengan pergi ke banten
selama sebulan akhirnya membuat sekolah Tk ku berhenti di tengah jalan.
Waktu pulang pun tiba, namun aku tidak pulang ke bandung melainkan
langsung ke garut. Karena waktu itu adik bungsu mamah akan menikah. Aku pulang
bersama isteri uak dan anak bungsunya ke rumah nenek dari bapak terlebih dahulu
yang lokasinya berada di Lewo-Malangbong, kami berangkat dari Banten sehari
sebelum pernikahan bibi berlangsung. Sepulangnya
aku dari Banten ketika sampai di rumah tepatnya di cilimus mamah dan bapak
hingga meneteskan air mata karena anak yang pergi anpa sepengetahuan orang
tuanya ini telah kembali. Aku hanya berekspresi biasa saja seperti halnya anak
lain yang masih berwajah polos. Setelah kejadian itu akhirnya mamah dan bapak
memutuskan untuk tetap tinggal di cilimus karena sebelumnya kami pulang pergi
bandung-garut. Selain itu, alasan lain juga karena mamah yang lebih suka pulang
ke kampung halamannya karena tidak kerasan tinggal di rumah mertuanya.
Perpindahan tempat tinggal pun berlangsung, aku yang sebelumnya
tidak menyelesaikan sekolah TK ketika pindah selalu mengikuti anak uak dari
mamah ke sekolah. Anak uak dari mamah ini perempuan namanya teh Irma atau yang
biasa dipanggil nay, karena waktu iu belum memasuki tahun ajaran baru maka aku
hanya mengikutinya saja. Ketika memasuki tahun ajaran baru saat tahun 2000 aku
pun akhirnya memasuki madrasah ibtidaiyah meski umurku baru 5 tahun dan menjadi
adik kelasnya teh Irma. Uak dari mamah yang lain pun ada yang mempunyai anak
seangkatan dan sekelas sama aku namanya teh Susi.
Di sekolah MI ini aku mendapat banyak teman dengan berbagai macam
karakter. Tetapi aku tidak mempunyai teman yang sangat dekat kecuali dengan
saudaraku teh susi, karena mungkin aku yang mempunyai sifat cuek. Meski aku
sudah mempunyai banyak teman, tapi mengikuti dan berbarengan dengan teh Irma
tetap dilakukan seperti pulang bersama saat bubaran sekolah kadang aku ikut
bermain dengan teh Irma ketika dia akan berkunjung ke rumah temannya sehingga
aku mengenal dekat beberapa teman teh Irma. Sebagai murid yang masih baru di
kelas pun belum banyak keberanian yang ditunjukkan bahkan mungkin akhirnya aku
banyak tertindas oleh teman-temanku yang lain. Selain karena tidak adanya
keberanian yang kutunjukkan umurku pun yang bisa dikatakan paling muda diantara
semua teman permpuannya jadi masih dianggap anak bawang dan tak akan memberikan
pengaruh pada kelas tersebut tapi aku tak terlalu memedulikannya.
Bisa dikatakan aku anak yang mempunyai sifat sombong atas apa yang
dimilkinya, aku yang masih muda tidak menyukai sifat buruk ini menyarang dalam
tubuh ini karena sangat mengganggu dan menghambat perkembangan pada diriku.
Dengan adanya sifat sombong ini aku akan selalu merasa puas atas keberhasilan
dan kelebihan yang sudah di dapat dan tak berjuang ataupun berusaha untuk mengembangkannya.
Memang sulit mengendalikan sifat tersebut apalagi sifat ini menempel pada anak
yang masih berumur belia. Sehingga kesombongan dan tak adanya keberanian dalam
diri ini membuat prestasiku sangat terhambat, karena aku yang bisa mengerjakan
sesuatu dengan benar tersebut tidak tereksplorasi karena kesombongan itu
membuat aku merasa puas untuk diriku sendiri meski tanpa mengungkapkannya dan
tak adanya keberanian tersebut akhirnya membuat kesempatanku untuk menjadi anak
yang berprestasi diambil oleh anak yang mempunyai keberanian lebih. Dan seperti
pepatah mengatakan “penyesalan selalu data g belakangan”.
Selain menuntut ilmu di madrasah Ibtidaiyah, aku juga belajar agama
yang diajarkan oleh uak dari mamah di madrasah Annajah cilimus. Tak sedikit
anak yang mengaji pada waktu itu, disana pun aku mendapatkan kembali banyak
teman tapi semuanya berumur lebih tua dari aku. Selain teman sepengajian mereka
pun teman bermain juga di kala waktu senggang. Banyak konflik yang terjadi
dalam pertemanan baik di madarasah ibtidaiyah maupun di teman sepengajian. Tapi
karena aku orang yang terlalu cuek dan tak terlalu suka mencari-cari masalah
menganggap hanya mereka yang bermasalah dengan dirinya sendiri lah yang
mempunyai konflik dengan teman yang lain.
Waktu untuk menunaikan kewajibanpun telah tiba, segeraku bereskan
netbook beserta perangkatnya dan bergegas untuk bersiap-siap meunaikan
kewajiban shalat dzuhur dan mencari ilmu. Jadwal hari ini perkuliahan
dilaksanakan sampai maghrib. Setelah menunaikan kewajiban mencari ilmu akupun
segera pulang ke tempat yang ku sewa untuk tinggal di bandung selama masa
perkuliahan. Kemudian dilanjutkan dengan menunaikan ibadah shalat maghrib dan
membaca sebagian ayat suci Al-Qur’an.. sambil menunggu waku isya datang aku
bersama teman kosan ku mengisi perut yang dari tadi sudah berteriak-teriak
kelaparan (keroncongan). Waktu isya pun tiba, setelah membereskan tempat makan
kami bergegas mengambil air wudhu untuk melaksanakan kewajiban shalat isya.
Setelahnya aku mengerjakan tugas sedangkan teman sekamarku menonton televisi.
Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan lebih, setelah menyelesaikan tugas aku
langsung tidur untuk mengistirahatkan anggota tubuh ini yang terasa sakit pada
seluruh badan.